The Act of Killing / Jagal (2012)

Anwar Congo in The Act of Killing

  • Directed by Joshua Oppenheimer
  • Cast : Anwar Congo, Herman Koto, Adi Zulkadry, Ibrahim Sinik, Safit Pardede, Suryono, Soaduon Siregar, Syamsul Arifin, Sakhyan Asmara, Japto Soerjosoemarno, Jusuf Kalla

Pertama kali menonton The Act of Killing atau Jagal beberapa tahun lalu menjadi pengalaman sinematik yang luar biasa, menyaksikan film dokumenter yang berbeda dari segi metode, narasi & subjeknya. Karya sineas AS, Joshua Oppenheimer ini memenangkan Film Dokumenter Terbaik di BAFTA dan dinominasikan Oscar 2013 di kategori yang sama. Jagal berfokus pada para pelaku pembantaian anggota PKI (Partai Komunis Indonesia) dan ‘tertuduh’ komunis di Indonesia tahun 1965-1966. Tak sekedar merekam testimoni, film ini juga mengajak para algojo me-reka ulang aksi mereka dalam bentuk film fiktif (?) berjudul Arsan & Aminah. Bisa dikatakan seperti menonton behind the scenes pembuatan film tentang pembasmian PKI yang diperankan pelaku aslinya dengan cara mereka sendiri.

Jagal mengikuti sosok Anwar Congo sepanjang tahun 2005-2010, salah satu algojo utama pembantaian komunis di kota Medan circa 65-66. Kini, Anwar menjadi sosok yang disegani sekaligus ‘sesepuh’ para preman dan ormas Pemuda Pancasila (PP) di Sumatra Utara. Dulunya, Anwar adalah preman tukang catut karcis bioskop lokal. Pasca G30S meletus dan naiknya Soeharto, disokong ABRI- dibentuklah pasukan pembunuh dimana Anwar dkk bersama ormas PP menjadi algojo utama pembantaian komunis dan simpatisannya di Medan. Penonton pun diajak melihat Anwar memperagakan metode menyiksa & membunuh yang dulu Ia lakukan. Terinspirasi dari film gangster kesukaannya, metode favorit Anwar ialah mencekik korbannya dengan kawat agar tak banyak keluar darah.

Dalam pembuatan film tentang dirinya, Anwar didampingi tangan kanannya, Herman Koto- kader ormas PP. Anwar juga mengajak teman-teman lamanya sesama algojo dulu, salah satunya Adi Zulkadry (yang sepertinya paling pintar). Berbeda dengan Anwar yang mengaku sering dihantui mimpi buruk di hari tuanya, Adi tak pernah terganggu atas kekejamannya dulu. Sebab Ia yakin perbuatannya adalah hal benar yang direstui Negara. Meski Adi sendiri mengakui bahwa mereka mungkin jauh lebih kejam daripada PKI. Tak hanya Anwar dkk, film ini juga menyoroti peran ormas PP sebagai ‘alat pemerintah & ABRI’ mengerjakan pekerjaan berdarah mereka membasmi komunis. Menunjukkan bagaimana terorganisirnya Negara membantai 1,5 juta rakyatnya sendiri tanpa pertanggungjawaban hingga hari ini.

Herman Koto, Anwar Congo, and Pemuda Pancasila in The Act of Killing

Tak bisa dipungkiri, ada ketidaknyamanan setelah menonton film ini. Melihat para algojo membanggakan kesadisan mereka layaknya pahlawan. Seperti di awal film, Anwar dengan canda tawa memperagakan cara menghabisi PKI memakai kawat di lokasi aslinya- loteng sebuah ruko. Atau adegan reka ulang pembantaian Kampung Kolam dimana ormas PP membumihanguskan pemukiman tertuduh PKI sambil menyanyikan Maju Tak Gentar. Seolah menunjukkan sistem negara korup yang ‘memelihara’ preman. Tak kurang dari Gubernur Sumatra Utara hingga Wakil Presiden Jusuf Kalla ikut muncul menyuarakan kalimat yang berulang kali diucapkan disini, bahwa Preman berasal dari kata free-men, orang di luar sistem yang harus dirangkul untuk kepentingan penguasa.

Saya menonton versi director’s cut berdurasi 149 menit, yang tentu lebih panjang dan penuh adegan kurang penting. Lewat syuting film fiktif Arsan & Aminah, Josh seolah ingin menangkap kesan macam apa yang mau dilihat para algojo tentang diri mereka dalam sejarah. Yang dalam prosesnya membuat para algojo, khususnya Anwar merenungkan kembali kekejiannya. Seperti saat syuting beberapa adegan penyiksaan PKI, ada ketidaknyamanan di ekspresi Anwar. Dan bagaimana dia me-repress (mungkin) penyesalannya dalam bentuk adegan surreal dalam film fiksinya di bawah air terjun Sigura Gura sebagai Surga. Disitu Anwar bertemu roh dua korbannya yang berterima kasih dan memberinya medali karena telah ‘mengirim mereka ke Surga’. Saya melihat adegan ini sebagai bentuk defense mechanism Anwar atas rasa bersalah yang menghantuinya.

Di akhir film ada adegan Anwar kembali ke lokasi di awal film- loteng ruko tempat Ia dulu menghabisi korbannya. Tapi kali ini tak seceria di awal film, Anwar mulai muntah dan menangis. Josh seperti mengingatkan kita, seberapa kejam pun algojo ini, ia hanya manusia biasa. Anwar Congo hanya satu dari ratusan algojo di Medan, dan ribuan di seluruh negeri kala itu. Mereka cuma pion dari kekuatan lebih tinggi, orang-orang di pemerintahan dan militer yang hingga kini masih berkuasa dalam impunity– kebal atas kekejaman mereka dan bahkan mendapat hadiah atas ‘heroisme’ mereka. Tapi eksekutor seperti Anwar, takkan pernah mendapat penghargaan. Nama mereka takkan pernah tercatat dalam sejarah nasional. Maka tak heran rasanya melihat orang-orang ini begitu semangat dan tak curiga dengan maksud  Joshua sebenarnya mem-film-kan mereka.

Pada akhirnya, Jagal bukan sekedar tentang Anwar Congo, tetapi ini semua tentang masa lalu berdarah yang ditutupi secara sistemik oleh negara saat sebuah rezim berkuasa. Mengutip Adi Zulkadry, para algojo bersama pemerintah adalah pemenang dan sejarah ditulis oleh pemenang. Saya tidak akan bicara soal benar-salah sejarah disini, tapi setidaknya film ini membuka mata kita atas banyak pertanyaan tentang masa lalu. Saya ingat sejarah di SD hingga SMA selalu ada materi penghianatan G30S tetapi sejarah tak pernah bercerita- apa yang terjadi pada 1,5 juta orang yang dituduh komunis itu? Rezim bisa berganti, para algojo ini mulai menua tetapi sejarah akan menunjukkan kebenarannya sendiri. Well, We’ll see.

Anwar Congo & Adi Zulkadry in The Act of Killing

Grade : B+

7 thoughts on “The Act of Killing / Jagal (2012)

  1. Andara September 14, 2015 / 7:28 pm

    liat film ini bener bener bikin mrinding liat pak Anwar cs santai betul nyeritain bunuh ratusan orang.
    Herannya negara ini diem aja. Bener-bener.

    • Nugros C September 15, 2015 / 8:08 pm

      Yah begitulah faktanya, horror yg sebenarnya negara kita.
      Sulit dipercaya tapi emang kaya yg Anwar dkk bilang ..it happened.

      Sekali lagi ngutip Adi Z ~~ merekalah pemenang

  2. Mr Good September 14, 2015 / 7:35 pm

    Udah pasti kalo Joshua dateng lg kesini, ga aman dia.
    Sedih aslinya liat fakta negara kita serem tetnyata.

    • Nugros C September 15, 2015 / 8:04 pm

      Ya kalo liat siapa saja yg muncul di Jagal sih, emang sangat ga memungkinkan Josh bisa aman sampe sini😉

  3. KukuhGiaji October 25, 2015 / 2:09 pm

    Dia bikin film lagi loh, judulnya “Senyap” udah nonton belom?

    • Nugros C December 26, 2015 / 12:09 am

      Yup, sudah ada di review berikutnya gan,, 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s