The Look of Silence / Senyap (2014)

Inong in The Look of Silence

  • Directed by  Joshua Oppenheimer
  • Cast : Adi Rukun, Rohani, Rukun, Inong, Amir Hasan, Amir Siahaan, MY Basrun, Syamsir, Kemat

Sebagai sekuel, pasangan, atau pelengkap film dokumenter The Act of Killing / Jagal, Joshua Oppenheimer kembali mengulik sejarah kelam Indonesia 1965-1966 dalam The Look of Silence atau Senyap yang rilis akhir tahun 2014. Jika Jagal berfokus pada para pelaku pembantaian komunis, maka Senyap beralih pada korban/ keluarga korban tertuduh komunis pasca G30 S.  Masih bersetting di Sumatra Utara, kali ini penonton dibawa ke pelosok Kecamatan Teluk Mengkudu, Kabupaten Serdang Bedagai (dulunya masuk Kab. Deli Serdang). Siapa sangka di balik keasrian dan kesederhanaannya, daerah ini menyimpan kesenyapan yang terkubur hampir setengah abad, ketika keluarga korban atau survivor tertuduh komunis 65-66 harus menjalani hidup mereka berdampingan dengan para pembantai yang berkuasa.

Senyap mengikuti Adi Rukun di awal tahun 2012, seorang optometrist– tukang kacamata kelahiran 1968. Adi yang tinggal di kota, kembali ke desa tempat orangtuanya tinggal. Ayahnya, Rukun sudah berusia 103 tahun, dementia dan tak bisa beraktivitas sendiri. Sementara sang Ibu, Mamak Rohani jauh lebih sehat dan masih ingat jelas peristiwa 65-66 yang merenggut putra sulungnya Ramli yang diculik dan dibantai karena menjadi anggota BTI (Barisan Tani Indonesia) yang berafiliasi dengan PKI. Berbekal footage– rekaman wawancara Joshua tahun 2003-2005 dengan para algojo, Adi pun mendatangi kediaman para pembunuh kakaknya. Dari algojo tingkat desa yang secara langsung membunuh Ramli hingga para pimpinan pasukan pembunuh 65-66 tingkat daerah yang kini jadi sosok berpengaruh. Bukan untuk menuntut balas, hanya sebersit penyesalan dan kata maaf sudah cukup bagi Adi.

Para algojo dulunya tergabung dalam `Komando Aksi`, kesatuan warga lokal yang disokong ABRI dan pemerintah untuk membasmi PKI. Kini mereka sudah berusia lanjut, beberapa sudah tiada. Namun semua sama, tak menunjukkan rasa bersalah. Bahkan salah seorang algojo- Syamsir yang konon sudah pikun dan tidak nyambung saat diberi pertanyaan, masih bisa bercerita dengan detil kehebatannya menggorok wanita Gerwani dan menenteng kepalanya untuk menakuti orang China. Tiap algojo yang Adi datangi, dengan bangga menceritakan aksi mereka dulu. Tetapi, setiap Adi mengungkap identitasnya sebagai adik Ramli, mereka mulai gusar, marah, denial dan tak mau dianggap bertanggung jawab atas kejahatan yang baru saja mereka akui dan banggakan di depan Adi.

Adi Rukun and Rohani in The Look of Silence

Lewat film ini, Joshua kembali membuat terobosan dalam pembuatan film dokumenter yang tampaknya belum pernah dilakukan sebelumnya, dimana korban (survivor) mengkonfrontasi secara langsung para pelaku yang masih berkuasa. Senyap memiliki atmosfer cukup berbeda dari pendahulunya, Jagal. Film ini lebih seperti umumnya dokumenter dan lebih personal. Ada momen-momen menegangkan ketika penonton ikut terbawa dalam pertarungan psikologis saat Adi face-to-face dengan para eks. algojo. Kita ikut terbawa menyelami kesenyapan di layar, hanya hembusan nafas dan close-up Adi maupun lawan bicaranya yang begitu intens dan kadang terasa awkward. Ikut bergidik saat algojo bernama Inong memberi tips agar tak gila setelah membunuh, yakni dengan minum darah korbannya.  

Secara tersirat, Senyap juga lebih terbuka mengkritik AS sebagai pihak yang mensupport rezim Indonesia saat itu membasmi warganya sendiri. Perbedaan lain dengan film Jagal, para algojo tua disini tak seperti Anwar Congo yang akrab dengan gubernur dan petinggi partai, melainkan hanya sosok-sosok renta warga desa biasa yang tinggal di rumah sederhana dengan reputasi `heroisme’ terbatas di lingkungan tetangga. Keunikan lain Senyap, profesi Adi sebagai tukang kaca mata seolah menjadi metafora sekaligus ironi tersendiri. Ketika Adi mendatangi para pembantai sebagai optometrist– mengetes mata mereka. Mencoba membantu penglihatan para orang tua yang `membutakan diri` atas tanggung jawab moral perbuatan keji mereka di masa lalu. 

Senyap hanya satu potongan dari sebuah keluarga yang kehilangan anggota keluarganya tahun 65-66. Nama Ramli, kakak Adi seolah jadi `legenda` tersendiri di daerah itu. Bukan karena pribadi maupun aktivitasnya di BTI. Tetapi karena kematian Ramli adalah satu-satunya yang disaksikan begitu banyak orang. Seperti yang diceritakan Mamak Rohani, suatu malam Ramli berhasil melarikan diri pulang ke rumah dengan berlumuran darah, dan dijemput esok paginya oleh para algojo dari tangan Mamak untuk dihabisi. Sementara ratusan nama korban lain di Teluk Mengkudu tak pernah terucapkan. Berbeda dengan Ramli, tubuh mereka tak pernah pulang, keluarga tak bisa mencari, mereka hanya`lenyap`. Meninggalkan senyap di udara bagi keluarga korban ketika para pembantai adalah tetangga mereka sendiri.

Jika disandingkan dengan Jagal, keduanya berbeda tetapi sama. Keduanya memaksa kita melihat masa lalu negara ini dengan kejujuran. Untuk saya pribadi sebagai generasi yang sama seperti Adi (lahir pasca 65-66, bukan berarti seumuran dengan Om Adi- He could be my father🙂 ), tontonlah Senyap tanpa prasangka- apapun ras, agama, atau latar belakang kita,  just watch it as human being. Seperti halnya Adi melihat para pembunuh sebagai manusia biasa, Ia datang bukan untuk menghakimi atau menuntut balas. Karena pada akhirnya, semua ini bukan tentang `yang sudah ya sudah`, tetapi tentang kebenaran. Dan bagaimana generasi kita belajar dari sejarah yang jujur dan benar. Well, We`ll see.

Adi Rukun and Amir Siahaan in The Look of Silence

Grade : A

5 thoughts on “The Look of Silence / Senyap (2014)

    • Nugros C October 8, 2015 / 6:20 am

      Isi form aja gan klo mo dpt dvdnya di filmsenyap.com/pemutaran
      Soalnya uda jarang screening sekarang mah.

      • Febriyan Lukito October 8, 2015 / 6:26 am

        Wahh. Okay deh. Makasih ya infonya.

  1. reyno January 3, 2016 / 12:52 am

    Hai salam kenal,

    Wah lengkap banget reviewnya, saya aja ngga sanggup nerusin nonton film ini, baru setengah jalan harus saya sudahi.. Cuma The Act of Killing (Jagal) yg sdh saya tonton dan itupun….sukses bikin saya speechless dan merinding..
    Entah gmn cara Joshua Oppenheimer berani banget ya buat filmnya..

    • Nugros C January 4, 2016 / 4:27 am

      Lho,,,,kenapa ga diterusin?
      Dari segi durasi, Senyap lebih cepet kok dan lebih padet aja filmnya. Sayang aja kalo ga dilanjut, Karena menurut ane banyak emotional punchline di konfrontasi-konfrontasi akhir yang lumayan menegangkan tapi kasihan juga nontonnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s